Kopi dan Peradaban
by afif on Nov.22, 2009, under hanya coretan
pagi yang cerah tentunya, menengadah wajah keatas yang kulihat hanya langit2 rumah yang kumuh dengan lampu pijar yang redup dan menemani kelelahanku, terbelalak mata oleh dinginnya, berucap "tentu indah hari ini"..
seperti biasanya pagi ini kujalani ritual pagi, bukan hal yang asing ketika kaki-kaki ini memaksaku melangkahkan sampai pada kedai kopi, berharap mata ini lebih terbuka dan setidaknya dapat koran gratis..,tapi....?alangkah tidak sreg di hati, ritual yang "wajib" setiap saat ini aku jalani hanyalah sebagai pemuas nafsu...hanya hasrat tanpa imbas yang berlebih bagiku..tapi apakah meneguk secangkir hanya sebuah ritual harian saja, jika setiap orang meminum kopi hanyalah suatu budaya yang melekat saja bagiku itu merupakan suatu hal yang sia-sia saja, secangkir untuk se jam atau dua jam atau mungki bagi mereka yang merasa hidupnya sangat lama mereka juga akan berlama-lama tentunya...,aku masih bertanya-tanya untuk apa aku lakukan hal itu juga..?
jika ada orang yang mengatakan me'ngopi' adalah jalan menuju kesuksesan dan orang sukses selalu ngopi merupakan hal yang sah-sah saja, soekarno minum kopi, soeharto pasti juga minum kopi apalagi alm. gus dur, tak lupa lagi sang legendaris kopi mbah Surip. namun, hal itu juga harus diimbangi ataupun diisi dengan pembahasan terhadap masalah, bukan sekedar melamun memandangi pekat dan hitamnya kopi, merasakan hangatnya air yang dicampur dengan serbuk hitam itu..
kopi dari budaya menuju peradaban yang lebih maju tentunya, dari kopi orang berdiskusi, dari diskusi orang lebih tahu, dari ketahuan orang akan mengerti, dari orang yang mengerti orang akan memberikan pengertian bagi orang lain....,
terdapat tempat yang menjadi pangkalan ngopi; warkop cak deli, warkop bonek, warkop AW, warkop ijo, warkop gg.dosen, warkop gg.tengah, dan expo.., meski masih banyak lagi yang aku jadikan tempat mendaratkan kesendirianku, aku belum menemukan diriku yang lebih..,ketenangan sesaat saja..selebihnya aku harus menerima penderitaan berkepanjangan, merogoh uang 1500 dari sakuku sama saja dengan tidak panen satu abad bagi seorang petani dengan sawah 5 hektar.
tentu bukan perbandingan yang seimbang namun hal itu yang aku rasa, bagi mahasiswa yang pas-pasan..., mungkin itu awal, dari kesuksesan tentunya....
kopi dan peradaban.....
indah bukan....?
seperti biasanya pagi ini kujalani ritual pagi, bukan hal yang asing ketika kaki-kaki ini memaksaku melangkahkan sampai pada kedai kopi, berharap mata ini lebih terbuka dan setidaknya dapat koran gratis..,tapi....?alangkah tidak sreg di hati, ritual yang "wajib" setiap saat ini aku jalani hanyalah sebagai pemuas nafsu...hanya hasrat tanpa imbas yang berlebih bagiku..tapi apakah meneguk secangkir hanya sebuah ritual harian saja, jika setiap orang meminum kopi hanyalah suatu budaya yang melekat saja bagiku itu merupakan suatu hal yang sia-sia saja, secangkir untuk se jam atau dua jam atau mungki bagi mereka yang merasa hidupnya sangat lama mereka juga akan berlama-lama tentunya...,aku masih bertanya-tanya untuk apa aku lakukan hal itu juga..?
jika ada orang yang mengatakan me'ngopi' adalah jalan menuju kesuksesan dan orang sukses selalu ngopi merupakan hal yang sah-sah saja, soekarno minum kopi, soeharto pasti juga minum kopi apalagi alm. gus dur, tak lupa lagi sang legendaris kopi mbah Surip. namun, hal itu juga harus diimbangi ataupun diisi dengan pembahasan terhadap masalah, bukan sekedar melamun memandangi pekat dan hitamnya kopi, merasakan hangatnya air yang dicampur dengan serbuk hitam itu..
kopi dari budaya menuju peradaban yang lebih maju tentunya, dari kopi orang berdiskusi, dari diskusi orang lebih tahu, dari ketahuan orang akan mengerti, dari orang yang mengerti orang akan memberikan pengertian bagi orang lain....,
terdapat tempat yang menjadi pangkalan ngopi; warkop cak deli, warkop bonek, warkop AW, warkop ijo, warkop gg.dosen, warkop gg.tengah, dan expo.., meski masih banyak lagi yang aku jadikan tempat mendaratkan kesendirianku, aku belum menemukan diriku yang lebih..,ketenangan sesaat saja..selebihnya aku harus menerima penderitaan berkepanjangan, merogoh uang 1500 dari sakuku sama saja dengan tidak panen satu abad bagi seorang petani dengan sawah 5 hektar.
tentu bukan perbandingan yang seimbang namun hal itu yang aku rasa, bagi mahasiswa yang pas-pasan..., mungkin itu awal, dari kesuksesan tentunya....
kopi dan peradaban.....
indah bukan....?
0 komentar